Tuesday, March 27, 2007

Prof dr Soedarto DTMH PhD

Temuannya Dipakai Dephan AS

Prof dr Soedarto DTMH PhD termasuk ilmuwan gaek di kampusnya. Mantan Rektor Unair (Universitas Airlangga) ini memiliki sebuah karya ilmiah yang terbilang cukup dasyat. Yaitu metode yang mampu mengembangbiakkan satu virus demam berdarah menjadi satu juta kali lipat.

Metode pengembangbiakan virus penyakit mematikan itu, kini dipakai departemen pertahanan (Dephan) di sejumlah negara. Antara lain, Dephan Amerika Serikat (AS), Kuba, Irak, Perancis dan beberapa negara lainnya. “Saya tidak mengetahui untuk apa. Mungkin sebagai bahan penelitian lanjutan," katanya.

Berarti dapat royalty dong? "Belum saya patenkan. Ini kan pengetahuan ilmiah. Jadi mereka hanya menggunakan metodenya saja. Bukan produk dari suatu metode," jelas Soedarto.

Tidak bisa dibayangkan, bila ada yang memiliki niat jahat dengan menyebar hasil perkembangbiakan virus itu ke suatu pemukiman penduduk, mungkin efeknya tidak kalah dengan senjata kimia dan nuklir.

Menurut Soedarto, metode pengembangbaikan virus itu memang salah satu di antara hasil penelitiannya. Ini bisa dipahami lantaran profesor beristri Sri Ami Astuti asal Malang ini sejak kali pertama mengabdikan diri di Unair memang doyan penelitian. Terutama dalam hal ilmu-limu mikrobiologi dan parasitologi. Bahkan sejak mahasiswa, dia dikenal sering menyibukkan diri dengan jurnal-jurnal asing.

Tidak salah kalau kemudian Soedarto juga diplot menjadi pimpinan Tropical Desease Center (TDC), pusat penelitian penyakit-penyakit tropis. Di tempat itulah biasanya para peneliti dari berbagai disiplin ilmu melakukan kajian-kajian ilmiah. TDC merupakan proyek kerja sama Unair dengan Jepang.

Dikatakan, gemar meneliti itu mesti terus digalakkan di lingkungan PT, termasuk di lingkungan Unair. Kalau bisa, hasil penelitian itu lebih bersifat aplikatif alias bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. "Hasil penelitian itu harus bermanfaat bagi masyarakat banyak," sarannya.

Dia menambahkan, guna memperkaya khasanah dan wawasan penelitian ilmu kedokteran, Unair juga akan membuka program studi pasca sarjana baru. Yakni, program studi Ilmu Kedokteran Tropik. Program studi ini terbilang masih langka. Sebab, di Indonesia baru ada satu. Yakni di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Yang menarik, calon mahasiswanya khusus diperuntukkan bagi para dokter saja. Selain itu, tempat kuliahnya juga khusus. Mahasiswa S-2 Ilmu Kedokteran Tropik ini akan digembleng di TDC yang berada di Kampus C Unair.

Burung dan Bunga

Burung dan Prof Soedarto agaknya seperti dua sisi mata uang. Sulit bisa dipisahkan. Di tengah-tengah kesibukannya yang luar biasa menjalankan berbagai aktivitas dosen, peneliti, dokter dan lainnya, bapak tiga anak ini masih sempat memelihara burung. Tidak main-main, di rumah dinasnya -lingkungan kampus Unair- sedikitnya 40 burung berbagai jenis menjadi klangenan-nya.

"Sejak kecil saya memang gemar memelihara burung. Untuk penghibur di saat pikiran penat. Bukan hanya seni merawatnya tetapi juga kicauan burung-burung itu sangat enak didengarkan," kata Soedarto sambil menjelaskan burung-burung koleksinya itu kepada Jawa Pos.

Belakangan, tidak hanya burung murahan yang dikoleksinya. Banyak juga burung yang dipunyai guru besar asli kelahiran Surabaya ini terbilang mahal. Sebut saja ada burung Beo, Kakatua, Cicak Rowo, Murai Batu, dan nama-nama burung lainnya. Adakah burung-burung itu yang didapat dari luar negeri? "Ini saya beli dari sini saja," jelas Soedarto.

Saking banyaknya burung yang dia miliki, dia juga mengaku sempat kerepotan untuk merawatnya. Untuk membeli pisang, misalnya, dia perlu satu tundun.. "Istilah Jawanya kalau membeli pisang itu tidak sak cengkeh lagi. Tetapi mesti tundunan," ungkapnya.

Jika dihitung dengan uang, biaya untuk membeli makan burung bisa puluhan ribu rupiah. Sebab, setiap jenis burung punya makanan sendiri-sendiri.

Meski memiliki puluhan burung, tetapi Soedarto mengaku jarang mengikutkan lomba burung berkicau. "Saya cuma hobi saja. Teman di kala sendirian di rumah. Apalagi anak-anak sudah besar," kata Soedarto.

Lain lagi dengan hobi sang istri, Sri Ami Astuti. Kalau Soedarto penghobi berat burung, istrinya seorang kolektor bunga. Ada anggrek, mawar, melati dan aneka macam bunga lain yang ditanam di halaman rumahnya yang asri. Sehingga memasuki rumah dinas rektor Unair ini, orang seperti sedang berada di taman bunga yang diramaikan kicauan aneka burung.
"Ibu memang gemar menanam bunga. Setiap hari, dia selalu menyibukkan diri untuk merawatnya. Sebab, memang ibunya anak-anak ini saya minta sebagai ibu rumah tangga saja. Biar saya yang bekerja. Jadi ibu rumah tangga itu susah lho. Jangan dipikir gampang," paparnya

No comments: