Aku punya sebuah masa kecil yang..............I don't know what supposed to tell about it. But, maybe like this....a little bit
Aku adalah seorang yang dibesarkan di sebuah lingkungan pendidikan. Aku bisa bicara seperti itu karena latar belakang orang tuaku yang memang mendasarinya. Ayahku adalah seorang guru bahasa Inggris SMU dan ibuku adalah seorang dosen Hukum di sebuah universitas swasta. Alhamdulillah, keduanya bekerja di kota yang sama.
Aku sekeluarga hidup berpindah-pindah sejak aku masih bayi sampai aku berumur 18 tahun. Total sejak kecil aku telah berpindah rumah sebanyak 6 kali dan Alhamdulillah akhirnya kami sekeluarga memiliki rumah sendiri di sebuah perumahan di Jombang.
Sejak kecil memang aku mengenal banyak orang, tapi hanya sedikit yang menjadi teman baik. Bukannya aku memilih-milih teman, tapi hubungan yang baik dan dekat tentu saja didasari atas visi yang sama. Kebetulan, aku termasuk orang yang memiliki visi yang berbeda dengan kebanyakan orang. Entah kenapa kadang aku merasa seperti seorang minoritas di dalam sebuah lingkungan.
Ditambah lagi sejak kecil memang aku dibesarkan dalam lingkungan yang sangat "maskulin". Bagaimana tidak ? Dengan 2 adik laki-laki dan paman2ku (adik2 ayahku) yang ikut bersama ayah ibuku benar2 membuat pengetahuan dan cara bersikapku yang tidak fleksible. Maka bisa dimengerti kalau ketika aku masih kelas 2 SD dan harus ujian dan duduk di sebelah cewek yang dikenal sebagai "idola" di kelasku maka aku sudah langsung berkeringat dingin dan panas dingin walau sebenarnya aku belum tahu apa yang namanya puber dan belum mencapai tahapan itu. Aku mengalami itu bukan berarti aku malu, atau memendam perasaan seperti para ABG2 sinetron yang blingsatan karena ada dekat dengan gebetannya. Tapi karena bagiku, anak perempuan seperti sesuatu yang tidak bisa diduga. Dan sangat menakutkan bila kamu harus berdekatan di sebelah sesuatu yang kamu tidak mengerti dan pahami. Seperti manusia purba yang pasti akan lari ketakutan bila melihat TV untuk pertama kali.
Tapi sepertinya bukan ketika kecil saja wanita sangat sulit dipahami,...well, untuk sebagian orang hal itu masih berlangsung sampai seumurku sekarang (walau tentu saja itu bukan aku yang punya masalah).
Kadang aku bisa begitu tidak cocok dengan semua orang yang aku kenal. Begitu tidak selaras dengan cara pemikiran mereka, terutama gaya dan tingkah laku orang-orang sebayaku. But often I can't say it clearly and loudly. Hal ini bukan berarti aku menilai jelek atau rendah orang lain, tapi entah kenapa aku selalu merasa berbeda dengan orang lain walau aku sama sekali tidak pernah merasa diriku istimewa. Karena sampai sekarang aku tidak pernah merasa diriku istimewa. Aku hanya berbeda.
Hal itulah yang mendasari aku tidak begitu akrab dengan kebanyakan orang yang aku kenal. Maybe I will say "hai", but it just regular "hai" nothing personal on that word. Datar. Kehidupanku ketika kecil memang begitu datar. Itu yang kurasakan. Mungkin aku melakukan beberapa kali hal yang kurang baik.
Tapi 'hal yang kurang baik" itu tak lebih dari bermain bersama teman2 akrabku terlalu lama. Hingga sering aku mendapat detensi dari ortuku untuk tidak boleh bermain dalam interval waktu tertentu. Entah seminggu atau sebulan. Kuakui kalau memang dari 3 bersaudara, aku yang paling bandel. Tapi itu tak lebih dari kebiasaanku "keluyuran"--->
Teman-teman akrab? Ya aku memiliki geng sendiri ketika kecil. Sebuah kelompok yang memilki ikatan sangat kuat. Walau tidak ada perjanjian tertulis dengan terbentuknya kelompok ini. Aku masih mengingat bahwa kelompok ini terdiri dari 6 orang anak yang memiliki interest dan cara berpikir yang nyaris sama.
Bila aku bilang "Geng", itu bukan berarti kami seperti anak-anak berandalan yang suka nyolong komik, atau ngompas anak-anak yang lain. Sebenarnya pertemuanku dengan mereka sangat beruntun. Dimulai dengan aku berkenalan dengan seorang dari temanku dengan cara yang unik.
Ya, berkelahi....jotos-jotosan....lek-lekan...senggel( Aku nggak tau bagaimana mengeja istilah Yogya ini dengan benar). Sebenarnya penyebab dari perkelahian ini juga tidak jelas. Aku masih tidak percaya ketika Arif, temanku itu mengatakan bahwa aku yang memulai perkelahian. Dia berkata kalau aku menanyai dia dengan pertanyaan2 yang tidak pantas untuk ditanyakan kepada sesama murid baru. Seperti Siapa kamu dan kenapa kamu pake acara sekolah disini?---->What kind of question is that? Jangan ditanya, aku pasti juga akan memukul hidung orang yang menanyaiku seperti itu bila memang pernah ada.
Dan memang,...saat itu semua kata-kata sampah itu berakhir dengan saling memukul, saling memiting dan saling mencakar, walau seingatku tidak sampai pada tahap saling mencolek mata.
Kemudian pertemuan yang menarik kedua adalah ketika aku bertemu dengan salah satu orang paling menarik (eksentrik:red) dalam hidupku. Well, let's we call it Satria. He he, aku jadi ingat lagi ketika bisa-bisanya salah satu guru SDku menyindir beberapa orang tua yang tidak cocok dalam memberi nama anak2nya. Yang kuingat adalah dia menyebutkan bahwa kenapa bisa orang tua lingkungan non-angkatan memberi nama anaknya "Satria"? Aku masih mengingat percakapan itu di kepalaku saat ini walau telah bertahun2 berlalu. Aku memang suka mengingat quote2 yang memberikan kesan padaku.
Well, apa salahnya bila seseorang memberikan nama yang dia anggap baik untuk buah hatinya. Bila ingin nama yang lebih aneh lagi tengok aja di Inggris.
OK, OK stop dengan masalah nama itu. Mari kita lihat lagi tentang memoriku dimana aku mulai akrab dengan anak yang bernama Satria. Aku mengenal Satria sebagai anak yang pendiam. Tidak jauh berbeda denganku. Aku mulai mengenal dia ketika aku masih kelas 2 SD. Ketika aku mulai mengobrol dengannya yang kebetulan duduk di dekatku waktu istirahat. Kami membicarakan banyak hal. Ujung2nya adalah ketika kami membicarakan tentang video game. Yang mana waktu itu adalah nintendo. Yup, permainan nintendo di zman itu memang sudah bisa membuat anak ndeso sepertiku jadi terpana2. "Betapa hebatnya konsol game ini". Walau hanya dengan teknologi 8 bit tapi cukup membuatku untuk jatuh cinta dengan permainan yang bernama nintendo, dan dijamin tanpa pelet untuk membuat anak seperti aku menyukainya.
Sebenarnya aku pernah menjumpai permainan ini ketika masih kecil, ketika aku main di tempat Budeku di Surabaya. Beliau memiliki tetangga seorang janda yang hidup bersama anak tunggalnya cowok yang masih seumuran aku. Nama temanku di Surabaya itu adalah Muel. Aku baru tahu kalau nama lengkapnya adalah Samuel ketika aku sudah kelas 1 SMP.
Kadang anak kecil memang tidak ambil pusing terhadap hal-hal tertentu.
Waktu itu Samuel pun telah memiliki konsol game yang menyihirku itu. Aku masih ingat saat itu permainan favoritku adalah Double Dragon. Itu adalah game tentang perkelahian jalanan dan tokoh utamanya adalah dua bersaudara yang bisa dimainkan bersama oleh Player 1 dan Player 2.
Kadang-kadang aku heran kenapa aku sangat suka game-game fighting. Mungkin memukuli orang kadang terasa enak. Tapi untuk urusan itu sepertinya memang cukup di game saja. Untunglah kcenderunganku berubah ketika aku pertama kali bermain game sepakbola bernama FIFA 98. Game itulah yang membuatku "berganti haluan" dan membuat game beraliran Sepakbola dan basket dalam priorotas utamaku.
Masalah game inilah yang membuatku fasih ketika Satria mengajakku bicara masalah game. Ternyata Arif juga adalah tetangga dekat dari Satria, kemudian kami semua jadi sering bertemu. Jadilah kami sahabat karib, ditambah 3 lagi teman-temanku yang lain. Dimana kami menjadi akrab karena kebetulan 5 orang temanku yang lain itu memiliki letak geografis yang berdekatan. Semuanya memiliki letak geografis yang berdekatan kecuali aku. Sebenarnya itu bukanlah suatu masalah bagiku karena aku mempunyai akomodasi bernama sepeda Federal biru (yang akhirnya kujual ke seorang teman di dalam gengku...Let's we call it Jefri...seharga sebuah kaset Bryan Adams-The Best of me-pada saat aku kelas 3 SMU)
Tapi itu jadi masalah bagi orang tuaku karena gara2 itu kebandelanku yang bernama keluyuran itu gak pernah luntur. (Terus terang aku baru mulai sadar ketika aku kuliah, itupun tahun ketiga).
Dalam Geng kami yang beranggotakan keenam orang itu benar-benar terdapat sebuah ikatan yang kuat. Ikatan yang kuat ini mungkin dikarenakan gara2 banyak hal yang terakumulasi menjadi satu. Cara pandang yang sama, kegemaran yang sama, keeksentrikan yang sama dan selalu berusaha mengatasi setiap masalah bersama.
Tapi harus kuakui, alasan pertama dari geng kami kuat adalah Satria. He's the foundation. In every meaning that you can get from that word.
Satria kuakui adalah sebuah pribadi yang unik. Tapi terus terang aku mengaguminya. Bagaimana dia bersikap kepada orang-orang terdekatnya. Bagaimana dia membangkitkan antusiasme kami. Bagaimana dia selalu memiliki sesuatu yang baru untuk ditunjukkan kepada kami. And sure he's the master of every game that we play. Entah itu video game, main kelereng, catur ataupun sekedar permainan Sul-sulan.
I know the last word seems strange.
Permainan Sul-sulan itu adalah sebuah permainan yang dimana kita dituntut memiliki fisik yang prima dan kecepatan lari yang tinggi pula. Permainan ini sebenarnya simpel. Jadi ini semua dimulai ketika ada seseorang (biasanya anak laki-laki) iseng dan kemudian menyentuh anak laki-laki lain dan kemudian mengatakan bahwa sentuhan tadi itu dari Sul. Sul adalah simbolis seorang cewek. Itu saja, seorang cewek. Tidak ada penjelasan bahwa cewek itu darimana dan seperti apa cewek itu. Tapi yang jelas bila sudah tersentuh "Sul" maka hal itu tidak bisa dibiarkan. Kamu harus mentransferkan sesuatu yang seperti penyakit yang bisa berpindah itu ke anak laki-laki yang lain
Permainan ini memang khusus untuk anak laki-laki, karena bila kamu menyentuh anak perempuan dalam permainan ini terdapat dua kerugian.
Pertama, anak perempuan tidak akan merespon permainan konyol semacam ini justru akan melemparmu dengan kotak pensil karena kamu telah berani menyentuhnya secara kurang ajar. Kedua, tentu saja muatan "Sul"mu tidak akan bisa berpindah ke anak perempuan, idiot! Itu justru menambah muatan di dalam dirimu dengan muatan yang lain, muatan cewek yang sengaja kamu sentuh---dan akan sangat memalukan bila kamu tidak sanggup mengejar anak laki-laki lain untuk mentransferkan muatan itu.
Entah kenapa ada permainan semacam ini, tapi bagi seorang anak kecil...semua selalu menarik dan selalu bisa dijadikan permainan. Tapi memang ada kesan bahwa anak perempuan diibaratkan sebagai penyakit menular. Siapapun yang menemukan permainan semacam ini,...aku yakin dia tidak lebih dari seorang anak kecil. Karena orang dewasa tidak seperti itu.
Satria, seperti yang aku bilang tadi. Adalah salah satu atlet yang ekselen sewaktu dia kecil. Dia adalah salah satu dari 3 pelari terbaik di kelasku. Sampai kadang-kadang aku merasa bahwa seumur hidup aku tak akan sanggup mengejarnya dalam permainan lari. Sehingga bisa dibilang kalau dalam permainan ini, dia termasuk pihak yang paling jarang mendapat muatan itu, atau paling bisa dibilang...orang yang memiliki waktu paling sedikit dalam menyimpan muatan itu.
Satria adalah orang yang sangat baik kepada orang-orang terdekatnya. Walau kulihat dia memiliki masalah yang tidak jauh berbeda denganku. Sangat susah untuk bisa terlalu akrab dengan orang lain. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa akrab dengannya. Di sekolahpun orang-orang mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Tapi lain cerita kalau dia sudah berkumpul dengan teman-teman satu gengya. Situasi bisa berubah 180o. Dia akan menjadi orang yang banyak bicara, banyak tertawa dan banyak mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang lain tertawa. Selera humornya memang lain dari yang lain. Dan entah kenapa, itu sangat menginspirasiku.
Satria menurutku adalah orang yang sangat humoris, setiap hari bersamanya hanyalah tawa. Dia memiliki selera humor yang aneh memang, tapi menurutku itu sangat menginspirasi. Hal sekecil apapun bisa menjadi sangat lucu baginya dan membuat kami juga berpikir bahwa hal itu lucu. Bahkan pernah ketika semasa kelas 1 SMP dia membuat buku-buku lelucon tentang kejadian-kejadian lucu yang terajdi setiap hari. Ribuan lelucon telah tertulis disana sampai akhirnya buku itu hilang dan terpaksa kami harus pensiun menulis lelucon karena sesuatu bila tidak lengkap maka percuma saja diteruskan (Atau mungkin sudah terlalu bosan melakukannya)
Jadilah kami sering bermain kesana kemari, mencoba hal yang baru. Mulai dari bermain ketapel (dengan batu sungguhan) di sawah dalam jarak tembak sekitar 20 m (cukup dekat sebenarnya untuk membuatmu mendapatkan cedera serius and believe me...kami menembakkan batu memang supaya agar kena sasaran...thank God, everybody have miss their shots that day), berpetualang di pedalaman Bareng-Wonosalam hanya dengan membawa sebuah sepeda gunung (Satria bahkan hanya memakai BMX untuk perjalanan berat di perbukitan...well, that;s my friend) dan membawa bekal.
Aku ingat, mengenai perjalanan berpetualang yang terinspirasi oleh buku komik petualangan Bur (Semacam Smurf, aku juga gak tahu bur itu apa. Aku dulu berpikir itu semacam sayuran). Teman-temanku sudah prepare membawa bekal berupa sandwich, roti selai kacang. Aku waktu itu hanya membawa selembar uang 5 ribuan (Cukup mewh juga uang saku yang diberikan orang tuaku saat itu, mengingat negoisasi yang alot ketika aku akan melakukan petualangan ini).
Ternyata uang memang tidak berlaku di tengah perbukitan, lagipula siapa yang akan berjualan di tengah perbukitan yang sepi yang mungkin diisi oleh sekawanan harimau Jawa (Aku bersyukur waktu itu tidak bertemu satu ekorpun). Yah, ujung2nya memang aku harus minta seiris roti dari teman2ku itu, they are really2 a nice guy. Serius. They are one of my best friend ever. Ngomong2 masalah makan, aku jadi ingat lagi ketika kami sedang makan di pinggir sungai di perbukitan.
Kami sedang asyik2nya makan dan menikmati aliran sungai yang mengalir tenang. Suasana saat itu memang terlihat begitu damai dan menyejukkan, terlepas dari begitu sedikitnya jumlah makanan yang kami makan. Tapi tiba-tiba saja datang seorang laki-laki dan berkata dengan santainya meminta izin kami untuk BAB disitu.
Well, terus terang selapar apapun kami saat itu, kami jelas-jelas tidak selera untuk makan lagi dan meneruskan perjalanan. Belum lagi ketika kami harus melewati jalan yang dipenuhi dengan anjing, tak berlebihan kami langsung menjuluki kampung itu sebagai kampung asu. Kampung yang banyak anjingnya, bukannya kampung yang isinya.....semua.
Jatuh ke sungai, melewati jalan-jalan yang terjal dan mencuci sepeda di sungai bersandingan dengan orang yang sedang memandikan kerbaunya di tempat yang sama. Walaupun ujung2nya kami harus pulang dan makan di dalam warung bakso dengan baju belepotan lumpur kami tetap menyukurinya dan benar-benar bersenang-senang. Tidak ada hari yang susah bila kami bersama, kami memang memandang hari-hari dengan cara kami sendiri. Kami memandang kucing dengan cara kami sendiri(Ini hanya sebuah contoh kecil).
Aku akui , masa terbaikku ketika kecil adalah masa-masa bersama dengan teman-temanku satu Geng itu. Apapun entah kenapa selalu menjadi menarik. Dan setiap hari adalah sebuah petualangan yang baru. Dan memang apa yang namanya kesedihan itu baru datang ketika kami berpisah. Tanpa disadari ikatan kami memang terlalu kuat.
Mungkin sebenarnya aku harus bersyukur. Karena ternyata aku beruntung. Aku beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Apapun kelebihan dan kekurangan mereka. Mereka telah melengkapi hari-hariku dan menyegelku dalam keceriaan dan kebahagiaan yang kadang kupikir akan sangat sulit kudapatkan di tempat lain. Dan ketika aku menghadapi kenyataan bahwa aku harus berpisah dengan mereka smua, aku mengalami masa-masa yang sulit. Bisa dibilang sangat sulit malah.
Bilanglah aku terlalu sentimentil, tapi kita semua seperti itu kadangkala. Aku hanya manusia normal.
Sebenarnya sangat banyak yang ingin kusampaikan di bagian ini. Tapi mungkin akan lebih baik kusampaikan di kesempatan yang lain agar lebih detil dan jelas.
Kebiasaan lamaku bila sudah berbicara atau menulis,
Kadang suka melantur tidak jelas.
Well, there's plenty of time for me now..to tell it straight




No comments:
Post a Comment