Sunday, March 25, 2007

AK-47

Kalau saja Rusia tidak kocar-kacir menghadapai serangan Nazi Jerman, barangkali Mikhail Timofeevich Kalashnikov tak punya ide membuat sebuah senapan infanteri. Angan-angannya sederhana saja sepertinya, menciptakan senapan yang mudah dioprasikan, bisa dibuat massal dengan cepat tapi tak rewel di lapangan. Namun untuk mewujudkan impian tadi tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Sebagai bahan percobaan, Kalashnikov memulai dengan mengotak atik berbagai senapan mesin yang ada pada tank.

Berbekal ilmu yang didapat dari bongkar pasang tadi, ia menciptakan senapan model pertamanya Kalashnikov MT pada tahun 1942. Dua tahun kemudian model kedua dikembangkan. Tapi barulah pada tahun 1947 Kalashnikov benar-benar bisa meracik bedil infanteri idamannya. Bedil ini dinamakan AK-47.

Memang cita-cita membuat senjata yang bisa membendung NAZI ke negerinya meleset. AK-47 hadir ketika perang usai. Tapi itu bukan berarti nasib senapan ciptaannya tamat. Sebaliknya, Aangkatan Bersenjata Rusia merasa AK-47 bisa dipakai sebagai senapan standart infantri negeri itu. Tak berhenti sampai disitu, populasi bedil ini juga belum tersaingi. Total ada 80 juta buah senapan AK dengan berbagai variasi tersebar di seluruh penjuru jagat. Semua itu berkat keandalan, gampang pengoperasiannya, serta mudah diproduksi secara massal.

Bandel dan gampang diopreasikan, itulah ungkapan klise yang biasa dilontarkan prajurit TNI untuk sedikit memuji kehebatan AK-47. Dan memang alasan itu pula yang mendasari Kalashnikof mendesain AK-47 pada awal 1940. Karena ketangguhannya, akhirnya AK-47 diterima secara luas di seantero jagat. Peredarannya yang luas di negara berkembang tak lepas dari dampak Perang Dingin. Namun saat ini, AK-47 menjadi simbol pemakaian AK-47. Bahkan ketika AS berperang di Vietnam, pengamat militer AS sampai bilang, "tentara AS mesti mengganti senapan M16 yang mereka pakai dengan AK-47."

Apakah memang terinspirasi oleh kebandelannya itu, POLRI sampai memutuskan menjadikan varian senapan ini sebagai senapan standart prajuritnya. Perlawanan GAM jadi simbol paling aktual untuk menunjukkan bahwa AK-47 masih berjaya sampai sekarang.

Senapan AK merupakan senjata yang paling banyak diproduksi dan dipakai sampai sekarang. Seri awalnya adalah AK-47 yang dibuat pertama kali setelah PD II usai. Ide dasar dari sang penciptanya adalah membuat senjata infantri jarak sedang dengan kemampuan tembakan cepat. Inspirasi muncul dari banyaknya senapan serbu Jerman model MP 44 jatuh ke tangan tentara Merah (Tentara Rusia). Jadi pantaslah kalau bagian magasen (wadah peluru) AK punya bentuk mirip dengan MP 44. AK-47 menganut sistem operasi dengan bantuan gas dan ketukan putar Bagian laras senapan terbuat dari metal berlapiskan chromium. Pada kenyataannya, Rusia baru berhasil menyempurnakan kinerja AK pada tahun 1959. Sejak saat itu juga nama senapan ini langsung jadi "box office". Kondang sebagai senjata yang tahan banting, tetap ampuh melahap target wa;au terbenam lama-lama di dalam lumpur. Selain itu, kemudahan untuk mengoperasikannya juga membuat AK jadi senjata favorit bagi kaum pemberontak.

Sejak pertama dibuat pada akhir era 40-an ada banyak varian AK yang berhasil dibuat. Intinya adalah penyempurnaan dari generasi-generasi sebelumnya. Varian pertama yaitu AK-47 yang punya bobot 4,3 kg dianggap terlalu berat bagi kebutuhan senapan serbu. Kelemahan ini ditanggulangi dengan kemunculan varian AKM (M berarti Modernisasi) pada tahun 1959. Pada versi ini bobot bisa ditekan hingga mencapai 3,1 kg saja. Lalu pada era 70-an muncul varian AK-74 yang menganut aliran senapan infantri berkaliber kecil. Untuk itu maka ruang tembak dimodifikasi untuk menampung pelyru kaliber 5,45 mm standart soviet. Setelah itu muncul lagi versi AK 103 yang cocok dipkai untuk melontarkan peluru kaliber 5,56 standart NATO. Varian lain adalah AKS-74 untuk mengisi kebutuhan pasukan payung dan varian komando AKSU-74.

No comments: