Friday, March 23, 2007

PART-TWO ARIF UDIN KURNIAWAN

Dia adalah salah satu teman akrabku semasa SD dan SMP. Maklum, disamping beliau memiliki kedekatan geografis dalam hal tempat tinggal denganku, beliau ini juga memiliki hobi dan selera humor yang aneh tapi entah kenapa aku merasa cocok (two freaks). Beliau orang yang cukup ceria, ramai dan lucu. Namun kadang di lingkungan tertentu beliau ini hanya dikenal sebagai orang yang pendiam.

Semasa SD beliau ini menghabiskan waktu kelas 6 sebagai teman sebangkuku. Sedangkan 2 sahabat karibku, Doni dan Johar berada 2 deretan bangku dari tempat dudukku. Hal itulah yang membuatku hanya bisa berkomunikasi dengan mereka ketika waktu istirahat, yang kupikir sangat kurang. Kadang aku merasa sedikit tidak bersemangat kalau berada jauh dari Doni dan Johar. Well, karena kulihat kedua orang itu memang tidak pernah bisa diam ketika bersama. Pasti menyenangkan bila berada dekat dengan kedua sahabatku yang ramai itu.

Namun semua itu tetap tidak mengecilkan arti Arif Udin atau biasa dipanggil Alik (hanya dia orang di dunia yang kutahu dipanggil dengan nama Alik).

Tidak tahu bagaimana awalnya akhirnya dia menjadi teman sebangkuku. Bangku kami berada pada urutan baris ke 3 dari depan. Salah satu yang membuat kami sering bertemu adalah kami berada dalam satu kelompok belajar. Waktu itu Kelompok itu terdiri dari Alik, aku, seorang temanku bernama Teguh dan 3 orang teman cewekku. Kelompok belajar ini diprakarsai oleh wali kelas kami pak Indarto yang kebetulan memegang sub pelajaran Matematika. Sehingga ujung-ujungnya aku sering nyusul Alik untuk kelompok belajar bareng di tempat Desi, salah satu teman cewekku. Buntutnya memang aku menjadi sering main ke rumah Alik bersama temanku bernama Teguh. Entah untuk belajar kelompok, ngobrol, atau ngambil buah mangga Manalagi yang kebetulan ada di halamannya.

Bila aku mengingat kelompok belajar. Aku jadi sedikit meradang gara-gara rumus luas lingkaran. Waktu itu sepertinya aku tidak masuk sekolah barang sehari atau dua hari. Kemudian ada tugas matematika yang diberikan oleh pak In, guru matematika sekaligus wali kelas kepada kami. Tugas itu sebenarnya tidak begitu susah. Hanya tentang luas lingkaran. Tapi aku yang notabene tidak masuk beberapa hari kurang paham tentang rumus lingkaran. Akhirnya karena malas, aku tinggal menyalin buku PR teman sekelompokku...dan temanku itu adalah Alik. Aku menyalin dan mencoba memahami dan aku akhirnya cukup paham. Setidaknya tentang yang aku baca.

Akhirnya tiba saat ketika pembahasan PR. Tak disangka-sangka ternyata aku ditugaskan oleh pak In untuk mengerjakan satu soal. Aku cukup terkejut tapi bukan berarti aku tidak mengantisipasinya. Aku sudah hapal rumus dan hasilnya di luar kepala. Aku lalu seakan tanpa beban mulai menuliskan soal yang diberikan padaku beserta jawabannya. Tidak ada dalam hitungan menit aku sudah menyelesaikannya.
Mudah. Simple.

Tapi ketika aku akan duduk kembali di bangkuku pak In langsung melarangku untuk duduk. Aku terkejut ketika aku melihat ekspresi wajahnya yang terlihat marah.

“Yasin, coba tulis lagi bagaimana rumus luas lingkaran!”

Aku sedikit heran mendengar permintaan itu. Bukankah tadi sudah kutuliskan? Kemudian aku, masih merasa tanpa dosa menuliskan lagi sebuah rumus di papan tulis

Luas lingkaran = pi x r .

Setelah menulis aku langsung memalingkan wajahku ke wajah guru matematikaku itu, berharap ekspresi kemarahannya bisa reda. Tapi tidak, , ternyata beliau semakin marah.

“Apakah betul “pi” itu tulisannya seperti itu?

Aku jadi semakin bingung, aku tahunya memang pi seperti itu. Persis sama seperti yang ditulis Alik di buku PRnya. Lagian jawabanku sudah aku yakini benar kok, sudah kuhitung lagi di rumah. Lagian, memangnya kenapa dengan “pi” yang kutulis, bukankah seharusnya memang “pi” itu seperti itu?

“pi” = p – i ????????

Tapi aku tetap bengong dan sesekali menoleh sedikit ke arah teman-teman, terutama Alik. Ternyata dia sama bengongnya dengan aku.

Teman-teman yang lain malah terlihat geleng-geleng, seakan baru menyadari bahwa mereka punya teman satu kelas yang idiot.

“Siapa kelompok belajar Yasin? Angkat tangan!”

Serentak 5 orang langsung mengacungkan tangannya secara perlahan. Malu-malu takut

“Bisa-bisanya teman kalian ini tidak bisa menuliskan lambang “pi” dengan benar. Kalian harus ngajari dia lebih keras lagi”

5 orang yang angkat tangan tadi segera manggut-manggut sambil memandang sepatu mereka sendiri karena malu.

Akhirnya bisa ditebak, aku dan Alik kembali lagi dalam pertarungan mulut kami yang rutin. Namun tawa selalu menjadi akhir dari pertarungan itu. Sedang teman-temanku langsung memberikanku kursus kilat menghitung luas lingkaran beserta bagaimana menulis “ ” yang baik.

Bila berbicara tentang pohon mangga, aku jadi ingat ketika aku manjat mangga milik Alik. Aku pernah kram ketika memanjat dan jari telunjuk serta jari tengah kakiku membentuk sudut 90 derajat. Belum lagi ketika aku harus loncat dari atas pohon gara-gara diserbu beberapa ekor tawon ndas yang ngamuk gara-gara aku nyenggol sarangnya.

Rumah Alik cukup mewah (mepet sawah), di halamannya ada kolam tapi seingatku jarang kuperhatikan ada ikan apa saja di dalamnya. Setengah halaman depannya dipenuhi dengan bebatuan kecil untuk mengurangi debu dan juga mungkin untuk kepentingan estetika. Ada jalan kecil dari semen yang menghubungkan gerbang depan dengan teras rumah dan pintu halaman belakang. Disitulah biasanya kami bermain skateboard. Yap, skateboard!

Mungkin Alik kurang dalam beberapa hal tapi yang pasti dia lihai bermain skateboard. Dia sering mengajariku bila senggang. Tapi terbatas di halaman rumahnya. Believe me! It’s really2 thrilling. Aku dulu sering jatuh tapi gak parah banget. Perasaan yang menegangkan adalah ketika kamu meletakkan kedua kakimu di atas papan skateboard dalam posisi kamu sebagai Rookie(belajaran). Tegang banget! Nggak tahu kamu akan berhasil meluncur atau jatuh. But it’s fun! Sesuatu yang menegangkan dan menguji nyali seperti itu seringkali jadi kegemaran cowok.

Alik punya cara bicara atau suara yang agak aneh. Bila kita tidak biasa bersama dia setiap hari maka akan mengira anak yang satu ini sedang terserang sakit pilek atau hidung tersumbat. Suaranya khas dan seperti tertahan di hidung memang membuatnya terdengar seperti orang terkena influenza. Yap, itulah salah satu ciri khasnya yang kulihat sampai sekarang. Sering orang bertanya kepadanya apa dia sedang sakit. Jawabannya biasanya hanya nyengir.

Bila kuingat, setiap pulang ke rumah memang seringkali aku membonceng Alik. Sebenarnya aku melakukannya dengan ikhlas tapi kadang memang dia merasa tidak enak. Pernah dia mengatakan akan membayarku Rp 50,- tiap hari bila aku mau mengantarnya pulang. Aku heran juga waktu itu. Padahal tiap haripun aku pasti ngantar dia pulang karena rumah kami masih satu jalur. Aku dulu memang sering pulang dengan cara potong kompas di lewat Depdikbud. Aku bilang sama Alik kalau aku gak masalah membonceng dia tiap hari, toh rumah kami memang satu jalur. Lagipula aku bukan tukang becak (yang dibayar untuk ngantar). Salah satu alasan lain adalah Alik belum sanggup naik sepeda sendiri ketika SD. Aku jadi ingat kalau aku baru bisa naik sepeda motor ketika aku sudah kelas 3 SMU. Well, aku tidak menyalahkan Alik atau menyalahkan diriku sendiri atas ketidakmampuan kami akan hal-hal tertentu yang sudah lazim dilakukan orang. Believe me, semua selalu ada latar belakang yang mendasari.

Kebetulan rumah Alik berada di belakang Depdikbud dan rumahku ada di depan Depdikbud. Halaman Depdikbud memang terbuka ke arah sawah (yang kebetulan disana ada rumah Alik).

Aku sangat kenal baik dengan ayah dan ibunya. Kebetulan memang Alik anak tunggal dan kedua orang tuanya sangat ramah kepada teman-teman Alik. Benar bila orang berkata anak tunggal sangatlah dimanja. Alik salah satu contoh konkrit yang kulihat langsung. Semua permintaannya sebagian besar pasti dipenuhi. Bila aku main ke tempat Alik memang selalu kudapati rumahnya sepi karena memang hanya Alik dan ibunya yang sering ada di rumah. Kami sering bermain tamiya di rumahnya atu bermain nintendo untuk mengisi waktu (atau membunuh waktu tepatnya).

Aku ingat waktu itu tamiya miliknya adalah si ungu Proto Emperor.

Hubungan Alik dan aku memang agak beda. Walau kami satu bangku tapi kami sering bertengkar dan saling mengejek. He2, sebagai anak tunggal memang Alik bukan orang yang biasa mengalah. Tapi pertengkaran kami hanya sebatas bercanda...ya, tahulah acara saling ejek ala anak SD yang sering mengucapkan kata-kata tidak manusiawi. Tapi memang kata-kata Alik tidak pernah kuanggap terlalu serius, toh aku tahu kalau dia hanya bercanda. Begitu juga dengan dia. Selalu enak memang bercanda dengan Alik. Kadang dia mengucapkan dan mengangkat hal-hal yang tidak terduga. Minyak Zaitun pun bisa jadi lucu bila dibicarakan dengannya.

Alik orangnya selalu to the point kalau bicara. Kadang dia merasa tidak berdosa mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak dia bicarakan atau hal-hal yang melanggar kode etik antar teman. Hal itu kadang menjerumuskan dia di dalam masalah.

Saat kelas 2 SMP tepatnya di kelas 2-G aku (lagi-lagi) satu bangku bersama temanku yang satu ini. Pernah dia hampir berkelahi dengan teman satu kelas hanya gara-gara omongan dia yang terlalu terus terang. Untung aku dan beberapa orang teman bisa menenangkan suasana.

Aku juga pernah kebablasan bercanda bersama Alik sehingga tidak bisa menahan senyum ketika pelajaran matematika yang diampu oleh Bu Sur (entah siapa nama lengkapnya) sedang berlangsung. Akibatnya aku disemprot oleh Bu Sur dan disuruh mnegerjakan soal-soal yang ada di papan tulis. Kalau tidak salah waktu itu aku tertawa gara-gara Alik membicarakan masalah panggilan “des!”. Panggilan khas anak cowok yang lagi-lagi kurang manusiawi.

Bu Sur lalu mulai menanyaiku macam-macam. Tentang siapa aku, dan dimana tempat tinggalku, siapa orang tuaku. Aku kadang-kadang heran kenapa harus sejauh itu aku ditanyai hanya gara-gara sebuah seringai kecil. Aku masih ingat peristiwa kala aku masih kelas 1 SMP dan duduk bersama Doni. Aku tidak mengerjakan tugas PPKN dan guru PPKNku waktu itu memarahiku sedemikian rupa, mempermalukanku di hadapan seisi kelas sambil menunjukkan buku tulisku yang sampulnya sudah lepas. Belum lagi beliau mengatakan bahwa apakah seperti ini buku tugas dari anak seorang guru?Hal itu sangat membekas sampai sekarang dan aku lebih memilih dikeluarkan dari kelas atau menyelam di tengah kolam sekolahan daripada dipermalukan di depan teman-teman dengan membawa nama orang tuaku.

Ada batasan yang sangat jelas antara menghukum dan mempermalukan. Kalau hukum, hukum saja. Jangan membawa nama orang tua untuk mempermalukan seseorang di hadapan seisi kelas.

Tapi untuk kasus Bu Sur memang agak beda. Selesai aku mengerjakan soal dengan benar memang beliau mulai melunak dan menanyaiku dengan nada yang ramah. 1 jam pelajaran habis hanya untuk menginterogasiku di depan teman-temanku. Namun yang kudengar beliau sepertinya hanya mengajakku bicara, bukan memarahiku. Akan lain mungkin nasibku bila aku tidak sanggup mengerjakan soal matematika tentang hitungan waktu yang diberikan di depan kelas.

Setelah itu malah hubungan kami jadi baik dan aku tidak pernah lagi bikin masalah saat jam pelajarannya. Setiap ulangan matematikapun aku selalu belajar mati-matian untuk meraih hasil maksimal. Simpel aja, agar aku tidak ditegur lagi mengingat pada cawu 2 aku sudah naik pangkat menjadi ketua kelas menggantikan Bowo, temanku. Akan sangat memalukan bila aku harus dimarahi lagi gara-gara nilai matematikaku jeblok dengan posisi baruku sebagai ketua kelas.

Proses diriku menjadi ketua kelaspun cukup unik. Bowo yang sudah berpengalaman menjadi ketua kelas ketika kelas 1 mengajukan pengunduran dirinya kepada wali kelasku gara-gara dia merasa sudah tidak ingin dan sanggup lagi menjadi ketua kelas. Jujur saja, semua siswa manapun pasti enggan menjadi ketua kelas. Apakah mungkin gara-gara posisi itu disamping gak gampang juga tidak ada bayarannya?he2, enggaklah. Nggak sampai seperti ituJ

Aku ingat aku pernah menjadi ketua kelas sewaktu SD. Saat itu adalah kelas 5. Entah gimana gayaku menjadi ketua kelas saat itu. Tapi yang jelas yang kuingat aku paling gak bisa ngeliat hal-hal yang gak bener sedikitpun selama aku bertanggungjawab. Hal itulah yang membuatku kadang berbenturan dengan banyak teman sekelasku yang lain. Terutama grup anak-anak bengal .(penilaian subyektif)

Sering berteriak-teriak kalo teman-teman rame waktu gak ada guru. Mungkin hal-hal semacam itu yang membuat teman-teman menganggapku sebagai orang yang sok. Aku tidak tahu tanggapan teman-teman, tapi yang jelas aku hanya mencoba melaksanakan tugasku sebaik-baiknya.

Yang paling memalukan adalah ketika pemilihan ketua kelas sewaktu kelas 6. Entah kenapa pak In masih menuliskan namaku di papan pemilihan. Padahal aku sudah merasa mau muntah (saking enegnya) saat itu untuk menjadi ketua kelas lagi. Teman-teman memang sangat susah diatur dan aku merasa memiliki semakin banyak musuh.(namanya juga anak-anak)

Benar saja, waktu pemilihan saat itu terkuak sudah pikiran teman-teman terhadapku. Aku memang tidak akan pernah menyuruh satu temankupun untuk memilihku. Tapi hasil 46-0? Seburuk itukah hasilnya? Sebenarnya aku kecewa bukan karena aku tidak bisa menjadi ketua kelas lagi, tapi seburuk itukah pandangan teman-teman terhadapku waktu menjadi ketua kelas? Well, only Gods know Why.

Kandidat yang lain waktu itu adalah Teguh, seorang temanku yang sangat baik, sangat kalem yang kurasa tidak akan berteriak-teriak kepada teman-teman hanya untuk menyuruh mereka diam waktu guru tidak ada.

Bahkan teman-teman terdekatku sendiri memilih Teguh walau aku tahu bahwa mereka memilih Teguh karena tidak ingin berbeda dengan sebagian besar murid sekelas yang memilih Teguh, hanya itu.

Aku saat itu langsung instropeksi diri, yap instropkesi diri. Kata yang kutemukan bertahun-tahun kemudian untuk menggambarkan sikapku waktu itu. Lalu aku berpikir kalau mungkin aku tidak cocok untuk menjadi seorang ketua kelas. Mungkin teman-teman memandangku lebih baik bila aku menjadi siswa biasa saja. Terus terang, lebih enak jadi siswa biasa.
Namun, ketika diadakan pemilihan ketua kelas saat cawu 2 di kelas 2-G, aku berharap bukan aku yang akan menjadi ketua kelas.

Ketika kelas 1 sebelum pemilihan ketua kelaspun aku mendengar dari Retno, teman sekelasku yang duduk di depanku bahwa mereka akan mencalonkan aku jadi ketua kelas. Syukurlah bu Lis, wali kelasku saat kelas 1-B menunjukkan otoritasnya dan langsung menunjuk temanku Bagus untuk tugas itu.

Namun ketika kelas 2 ketika aku sama sekali tidak menyangka akan dipilih menjadi ketua kelas. Aku hanya diam tak bersuara seperti biasa ketika pemilihan dimulai dengan dipimpin pak Sofyan. Aku duduk diam dan bahkan menaruh daguku di atas tanganku yang kulipat di atas meja. Hampir seperti sniper. Tiarap sembunyi dan mengamati. Tapi saat itu masih kuingat, Koesherdiniy, temanku langsung melihatku dan merekomendasikanku. Anehnya, teman-teman yang lain menganggapnya sebagai sebuah ide bagus.

Jadilah aku seorang ketua kelas. Bahkan sampai aku lulus dari SMP.

Aku jadi ingat waktu masa-masa awalku menjadi ketua kelas. Alik sakit.

Alik pernah terkena sakit parah ketika SMP. Ketika aku bertanya pada ibunya diagnosanya menyatakan bahwa dia terkena gejala typhus. Suhu badannya sudah mencapai 40 derajat sehingga mampu membuat dia mengomel sendiri tidak karuan bahkan sampai jalan sendirian dalam keadaan tidak sadar. Acara muntahnya pun belum dihitung.

Waktu itu aku menghimpun iuran di kelas untuk membelikan Alik sesuatu. Entah buah atau roti, hal-hal yang pantas kita berikan kepada orang sakit. Alhamdulillah terkumpul cukup uang di kas. Wali kelasku saat itupun, Pak Sofyan merestui niat itu. Bendaharaku saat itu adalah Pudji, seorang cewek yang pada akhirnya mendaftar dan diterima di STM negeri.

Aku mengambil uang kasnya di kaliwungu (rumah Pudji :red), kemudian membeli buah-buahan dan roti kemudian diakhiri dengan menjenguk Alik di rumahnya. Semua itu kulakukan dengan bersepeda sendiri keliling kota.

Hampir seperti acara rutin kalau aku main di rumahnya, hanya saja sekarang pake embel-embel jengukan resmi atas nama teman-teman sekelas, walau kenyataannya yang datang menjenguk Alik hanya aku seorang. Teman-teman tidak ada yang bersedia menemaniku mengunjungi Alik. Mereka mengatakan bahwa cukup aku, teman dekatnya yang mengunjunginya.

Harus kuakui kala kelas 2 itu salah satu teman Alik yang paling dekat di sekolah adalah aku. Walau sebenarnya ada yang namanya Dhani dan Hari yang duduk di belakang bangku kami dan cukup sering ngobrol bareng. Tapi Alik tidak begitu dekat dengan mereka. Alik malah lebih dekat dengan cewek-cewek yang duduk di depanku, Eka dan Pudji.

Eka dan Pudji adalah cewek-cewek yang sangat baik. Siapapun akan merasa nyaman bila ngobrol dengan mereka, tidak terkecuali orang-orang seperti aku dan Alik. Kuakui saat itu aku cukup dekat dengan kedua cewek itu, terutama Eka. Tapi tidak ada dasar apa-apa, aku hanya merasa Eka adalah teman yang baik dan orang yang sangat enak diajak ngobrol. Tidak lebih. Sering memang aku, Alik, Pudji dan Eka ngobrol saat lowong di sela-sela pelajaran atau di saat jam kosong. Saat istirahat aku praktis jarang bertemu dengan mereka karena aku lebih memilih menemui Doni atau Johar, sahabat karibku sejak SD.

Namun ternyata ada yang menganggapku memiliki hubungan lebih dengan Eka. Aku terkaget-kaget ketika suatu saat Bowo, teman sekelasku yang mantan ketua kelas mengajakku bicara beberapa patah kata.

“Sin, kamu gaya banget bisa dekat dengan Eka “ (Kadang orang Jawa Timur mengungkapkan hebat dengan kata “gaya”)

“Lho, kenapa ? Bukannya dia teman sekelas kita. Gimana, gimana? Ada apa?”

Aku terus mendesak Bowo untuk mengatakan maksud perkataannya tapi dia malah terus mengelak sambil nyengir, sepertinya dia malu.

Baru kemudian aku tahu dari seorang teman kalau Bowo ada hati dengan Eka. Wew! Aku baru sadar kalau ternyata aku sudah membuat cemburu salah satu teman sekelasku. Tapi lalu kemudian aku jelaskan kepada setiap orang yang bertanya kepadaku masalah Eka bahwa aku tidak ada apa-apa dengan Eka, hanya teman sekelas. Berharap semua orang tahu yang sebenarnya.

Terus terang, Eka memang sangat manis dan mempesona. Dia memiliki inner beauty yang akan diakui oleh setiap orang yang mau melewatkan beberapa menit untuk bicara dengannya. Bahkan dengan kapasitasku sebagai anak SMP waktu itu aku langsung mengucapkan kata “keibuan” (yang langsung membuat Doni tertawa keras dan lama ketika melihat aku mengucapkannya...whatever)

Bagiku Eka hanyalah teman biasa saja, sama seperti Alik, Pudji, Dhani atau Harry. Mereka semua teman sekelasku. Sama sekali tidak terpikir di ruang otakku yang terbatas ini kalau aku sampai ada keinginan untuk mendekati Eka dalam posisi lebih dari sekedar teman.

Namun aku tetap melanjuutkan aktifitas keseharianku seperti biasa. Ngobrol dengan Harry, Dhani, Alik, Pudji dan Eka seperti biasa dan dalam standart yang sama seperti yang kuterapkan setiap harinya. Tidak berlebihan.

Walau begitu masih aja ada suara-suara yang mengatakan bahwa aku ada sesuatu dengan Eka. Aku hanya bisa membicarakan ini dengan Alik. Alik seperti biasa dengan gayanya yang khas mengatakan

“Gak usah dipikir, gitu aja dipikir. Atau jangan-jangan kamu benar-benar suka ya?”

Sedangkan Doni dan Johar sudah tidak bisa diharapkan lagi karena bila mendengar kata Eka mereka mulai mempermainkan kata “keibuan” di depanku.

Waktu demi waktu kutunggu, ternyata Bowo tidak segera melakukan gerakan. Dia seperti kehilangan semangat untuk mengejar Eka. Aku juga tidak tahu dan aku juga tidak ingin tahu. Aku hanya ingin keadaan tidak menjadi semakin parah. Kalian tahu kan? Bila kalian memiliki seorang teman lawan jenis dan tiba-tiba kalian digosipkan ada hubungan lebih, maka biasanya bila dilihat trend anak SMP maka hubungan akan semakin renggang. Karena minimal salah satu dari mereka akan mulai memproteksi hati dan perasaannya. Hal itulah yang akan membuatnya semakin hati-hati dan tidak leluasa lagi dalam berbicara.

Aku tidak mau hal itu terjadi.

Aku tetap seperti biasanya, ngobrol hanya ketika di kelas, gak pernah ngobrol di luar kelas, gak pernah ngobrol waktu pulang sekolah, gak pernah boncengan atau bahkan jalan bareng sama dia. Benar-benar jaga jarak agar semakin terhindar dari gosip.

Tapi kemudian ada sebuah percakapan lagi yang tak sengaja kutangkap dari dialog antara Eka dan mantan teman satu kelasku di kelas 1, Sudjarwati.

“Mbak Eka, sekarang kamu akan milih siapa...Yasin atau Christian?”

Hanya satu kalimat yang kutangkap, tapi hal itu menjelaskan banyak hal.

Saat itu Christian, teman satu kelasku ternyata sedang melakukan pendekatan terhadap Eka. Sebagai informasi, orang yang bernama Christian ini mempunyai wajah di atas rata-rata. Well, bisa dibilang begitu karena kulihat banyak sekali yang naksir sama teman sekelasku yang satu ini. Wajahnya memang ada kemiripan dengan bintang sinetron Gunawan (Aku gak percaya aku bisa sejujur ini-àbiasanya muntah kalo ngomong kek gini)

Tapi bila membicarakan Christian dan Eka ? Eka adalah cewek baik-baik, charming dan tidak banyak tingkah. Seisi kelas dan siapapun temannya pasti akan menyimpulkan demikian. Sedangkan di sisi lain Christian adalah figur cowok idola (cepet ambilin gw pispot!!!)

Saat itu aku punya keyakinan, bahwa siapapun yang mempunyai keberanian untuk mendekati Eka, dia pasti sangat serius. Karena Eka bukanlah tipe cewek yang didekati untuk hubungan singkat saja. She’s a woman to be loved. Aku bisa melihat itu, sama kata-kata yang diucapkan oleh Rudi Sudjarwo tentang Dian Sastrowardoyo.

Itu murni penilaian obyektif.

Perasaan Eka padaku? Aku tidak tahu dan selalu kuanggap dia hanya menganggapku sebagai seorang teman. Tidak lebih.

Ketika masa akhirku di kelas 2, aku melihat Christian menggonceng Eka denga sepeda mini. Well, aku ikut senang. Kulihat mereka berdua tersenyum lepas. Ketika mereka lewat di depan rumahku (waktu itu kebetulan aku bersama Alik) mereka langsung melambaikan tangan kepada kami berdua. Alik dan aku langsung membalasnya.

Christian adalah teman sekelas yang baik. Dia juga sangat baik dan ramah padaku. Dia juga humoris. Banyak adik kelas yang menyukainya, tapi sepertinya dia tidak menanggapi. Aku baru tahu bahwa dia memiliki seseorang yang dipikirkan.

Christian adalah seorang muslim tulen. Aku baru tahu ketika dia sholat di mushola SMP. Namanya memang bisa membuat orang salah paham.

Sedangkan Alik sendiri ketika kelas 3 SMP memiliki kelas yang berbeda denganku.

Hal itu lambat laun membuat hubungan kami semakin renggang karena kami jarang bertemu. Kadang aku bermain ke rumahnya tapi sudah tidak seintensif dulu lagi.

SMApun setali tiga uang dengan masa kelas 2 SMP.

Hanya saja ketika SMA, aku mendengar dari salah satu sahabat sohibku yang kebetulan satu SMA dengan dia bahwa Alik sudah mengalami perkembangan pesat.

Alik mulai berdandan funky dan aneh-aneh, ke sekolah naik sepeda motor Tiger dan bahkan sampai ke level sudah berani berpacaran.

Sungguh jauh dengan keadaannya ketika masih satu kelas denganku dulu. Entah itu sebuah kemajuan atau kemunduran. Tapi memang sifat dan tingkah lakunya sudah semakin berbeda ketika SMA. Namun kami kadang masih saling mengunjungi.

Pernah suatu saat tiba-tiba dia nongol ke rumahku dan mengantarku sampai di depan rumah Jefri, anak SMU 1. Siapa Jefri ? Belum saatnya kuceritakan sekarang.

Setelah itu dia malah mengajakku mengunjungi seseorang yang ternyata pacarnya. Aku sendiri jadi bingung dengan kunjungan tiba-tiba ini. Aku jadi heran apa maksud Alik mengajakku ke tempat pacarnya secara tiba-tiba. Walau akhirnya Alik mengenalkan kami.

Kuakui kalau Alik semakin berani ketika SMU bahkan aku melihat perkembangannya terlalu pesat.

Aku bisa melihatnya dan bisa melakukan sebuah perbandingan.

Selepas SMU bahkan ada kabar tidak mengenakkan dari salah seorang teman tentang Alik. Dia bilang kalau Alik telah menghamili seorang cewek teman satu SMAnya dan telah dikawinkan.

What??

Are you kidding?

Aku benar-benar tidak percaya waktu itu.

Okelah, berdandan funky, rambut super necis, kebut-kebutan pake Tiger bahkan sampai pacaran. Semua itu memang drastis, tapi menghamili? Sepertinya aku harus memastikannya sendiri

Suatu hari di tahun 2002 setelah hari raya, aku pergi menemui Alik di rumahnya. Saat itu aku agak deg-degan juga. Takutnya Alik sudah tidak tinggal bersama orang tuanya malah tinggal bersama istrinya di tempat mertuanya. Sorone uripmu le, le!

Tetapi ketika ibunya membukakan pintu dan mulai berbicara, aku menjadi yakin kalau kabar-kabar itu semua bohong. Ibunya berkata kalau Alik sedang main ke tempat Teguh. Agak terkejut juga ketika aku mengetahui kalau Alik dan Teguh masih keep in touch terus.

Ibunya mengatakan bahwa Alik pulang sekitar sore sebelum Maghrib. Kebetulan aku waktu itu mendatangi rumahnya sebelum Dhuhur. Aku langsung berpesan kepada ibunya bahwa Alik diminta untuk segera menghubungiku atau setidaknya main ke rumahku.

Kenyataan yang ada adalah Alik sendiri datang ke rumahku. Setalah chit chat silaturahmi ngalor ngidul, aku langsung to the point menanyakan kabar burung yang kudengar. Alik hanya tersenyum sinis dan berkata

“Aku tahu ada gosip semacam itu,...dan itu sama sekali tidak benar”

Alhamdulillah, ternyata kemungkinan terburuk tidak jadi kudengar. Aku tidak mendesak atau menanyai Alik macam-macam. Aku cukup percaya dengan Alik. Lagipula sepertinya pertanyaan semacam itu hanya akan semakin menyinggung perasaannya.

Ya, iyalah

Gimana rasanya bila ada kabar jelek tidak benar yang beredar tentang kamu ?

Terakhir kali ketemu Alik adalah ketika sholat Id di masjid Agung. Dia berkata kalau dia sudah bekerja di kontraktor perumahan di daerah Surabaya dan sekitarnya. Cukup hebat Alik menyelesaikan 2 kuliahnya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Manajemen di STKIP Jombang dan Teknik Sipil di Undar Jombang.

Sampai saat ini aku belum bertemu lagi..dan aku tidak yakin apakah bisa bertemu lagi.

Bagaimanapun juga Alik adalah seorang sahabat yang baik walau dengan selera humor yang aneh dan agak gung-gungan.

Gung-gungan itu apa?

Tanyakan saja sama orang Jawa TimurJ

No comments: