SD murni adalah masa-masa bermain bagiku. Bila ada prestasi yang kucetak, maka itu bonus. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman-teman lalu membahas berbagai hal yang selalu menarik untuk dibahas. Entah itu masalah film, tamiya, games atau kejadian-kejadian konyol yang ingin kita sharing dengan teman-teman. Seringkali ujung-ujungnya hanya menjadi ajang permainan lari. Yup, permainan Sul-Sulan memang tidak pernah lekang oleh zaman ketika SD. Satu hal yang sangat jarang kami bicarakan,....masalah pelajaran.
Entah kenapa memang 6 tahun di SD terasa begitu lama. Sangat jauh berbeda dengan 6 tahun yang kurasakan di Universitas. Mungkin karena ketika waktu SD kami mencermati semua hal yang kami temui, namun ketika kamu kuliah...kamu hanya akan semakin fokus dengan apa yang kamu pikirkan, bukan dengan apa yang kamu lihat.
Believe me! Waktu benar-benar terasa cepat bila kamu hanya menghabiskan waktu untuk berpikir tanpa menoleh ke kiri dan kananmu.
Namun kuakui SD adalah pondasi dari bakat-bakat apa saja yang aku miliki. Disanalah aku mulai menulis sendiri, menggambar sendiri dan mengapresiasikan diriku dengan yang namanya seni. Disanalah aku mulai tahu bagaimana mengamati dan menganalisa. Sesuatu yang sangat suka kulakukan hingga sekarang. Menulis dan menggambar pernah membuatku bercita-cita menjadi seorang komikus.
Komik memang mewarnai (atau meracuni) kehidupanku ketika SD. Mulai dari yang namanya Tintin, Trigan, Smurf, Asterix, Doraemon, Akira, Dragon Ball hingga yang namanya Tiger Wong, kaya fenomenal Tony Wong. Semua yang kubaca itu (yang tanpa sepengetahuan ortuku) benar-benar menginspirasiku dan membuat semangatku terisi untuk bisa berkarya seperti mereka. Maka mulailah kebiasaanku menggambar dan membuat cerita. Yap, aku memang pernah membuat komik sendiri ketika SD dengan segala keterbatasan yang kupunya. Namun memang, waktu itu banyak yang mengejek diriku (Kadang heran juga bila mengingat ejekan2 dari seorang anak SD. Seringkali tidak berprikemanusiaan).
Ada yang bilang gambarku kakulah , ceritanya terlalu seriuslah, perkelahian melululah. Tapi memang apa yang kugandrungi selama ini hanyalah komik action dengan banyak adegan peragaan jurus-jurus maut. He2,...mungkin Tony Wong memang telah meracuniku terlalu keras,
Aku adalah orang keras kepala, itulah kenapa aku tidak pernah ambil pusing omongan teman-temanku waktu itu (Kadang juga sampai sekarang). Aku terus menggambar dan menggambar. Hasilnya tidak mengecewakan, aku berani bilang kalau karyaku adalah nomor 3 terbaik di kelas (Itu kemungkinan dari hanya 3 orang yang mau buang-buang waktu untuk bikin komik, he2).
Orang yang sangat kukagumi karya-karyanya adalah Yudi Hendratmo. Kuakui dia mempunyai bakat menggambar lebih dari siapapun yang pernah kukenal sampai saat ini. Komik karyanya sangat bagus, atristik dan “nyeni”. Terus terang apa-apa yang digambar memang benar-benar bisa membawa emosiku kala aku membacanya.
Jenius! Dan waktu itu dia hanya seorang anak SD. Aku ? Harus kuakui bahwa aku bekerja keras untuk menyamainya, tapi sepertinya aku selalu tertinggal 2 grade dari dia. Walau begitu sebenarnya Yudi adalah anak yang pendiam dan tidak pernah bertingkah aneh-aneh. Bahkan sebenarnya dia cenderung penakut.
Pernah temanku...let’s we called him...Yanto, mengejek Yudi sedikit.... langsung saja dia meringkuk di mejanya dan menangis.
Yudi memang sangat sensitif dan sentimentil, walau hanya untuk ukuran anak SD. Mungkin itulah yang membuatnya sebagai artis hebat. Dia juga sangat rendah hati dan tidak pernah menghina orang lain, atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Aku sendiri merasa kalau karyaku jauh bila dibanding karya-karya dia, tapi dia tetap antusias untuk membaca dan melihat gambar serta komik yang kubuat. Entah kenapa dia seperti benar-benar menikmatinya dan memuji karya-karyaku. Dia juga sering memberiku tips-tips untuk menggambar yang baik dan praktis. He’s is my grand master on Drawing.
Salah satu yang terbaik dari dia adalah...dia selalu meminjamiku komik Dragon Ball, the best manga ever. Sayang hanya sampai akhir pertempuran antara Songoku dan Freeza. Saat itu kami sudah lulus SD dan Yudi harus ikut pindah orang tuanya di Jakarta.
Salah satu karya Yudi paling sensasional adalah lukisan pohon dengan background Gunung. Mungkin lukisan semacam ini sudah terlalu umum. Tapi dengan pilihan warna, kesan dan keartistikan lukisan itu....kadang aku heran kalau seorang anak SD seperti Yudi yang membuatnya.
That painting is alive! -àAtau kasus sebenarnya aku saja yang terlalu membesar-besarkan. But truly, is a great painting.
Lukisanku? Aku sebenarnya bersama Yudi ikut melukis lukisan kanvas dengan menggunakan cat minyak bersama-sama. Kaimi melukis bersama di rumahnya. Cat minyak kami patungan waktu membeli. Jadi kejadiannya adalah aku sering sore-sore bersepeda ke rumah Yudi untuk mengerjakan proyek kami karena hasil karya kami dan seluruh kelas akan dimasukkan dalam galeri yang diselenggarakan waktu penerimaan raport.
Yudi sangat telaten dan hasilnya juga bagus (lukisannya:red). Sebenarnya aku juga telaten, namun kenapa aku tidak puas dengan lukisanku sendiri. Itulah sebab kenapa ketika pameran aku lebih memilih tidak memajangnya di pameran dan lebih memilih untuk menyimpan lukisan itu di kolong tempat tidur budeku. Aku mempunyai seorang bude yang sering kukunjungi di Perumahan Jaya Abadi. Aku menaruh disitu karena aku yakin lukisan itu tidak akan terekspos di dunia bila kusimpan disana.
Entah sekarang Yudi ada dimana, terakhir kali aku melihat namanya ada di FS, hanya saja FSnya sepertinya tidak aktif.
Begitulah Yudi, anak yang sedikit introvert, pemalu, sedikit cengeng tapi memiliki begitu banyak bakat melimpah.
Satu hal miris yang kuingat tentang Yudi adalah kejadian yang terjadi di rumahnya ketika dia Ulang Tahun. Waktu itu Yudi mengundang sebagian besar anak laki-laki sekelas. Sebagian besar undangan memang datang, termasuk aku. Saat itulah terjadi kejadian yang sungguh tidak masuk diakal. Ada 2 orang teman melakukan tindak asusila di rumah Yudi, di dalam kamar yang ada di bagian belakang rumah. 2 orang temen cowok. Tak perlu kuceritakan apa yang terjadi tapi yang jelas aku heran dan nggak tega untuk cerita. Tapi anehnya aku waktu itu juga terbawa euforia anak kecil yang malah menyoraki tindakan yang sebenarnya “guyon” biar ada rame2an gitu.
Cuman ternyata sang nyonya rumah alias ibunya Yudi tidak melihat hal itu sebagai “guyon” dan melaporkan hal itu ke sekolah. Hasil sudah bisa ditebak. Kedua tersangka langsung digiring ke ruang guru dan diinterogasi macam-macam (sepertinya juga sekalian dengan eksekusi hukuman di tempat). Semua guru marah-marah, bahkan semua yang hadir di ultah itu kena getahnya (termasuk aku). Bahkan salah satu temanku yang sangat polos dan jujur secara blak-blakan mengatakan kepada Pak Guru yang menginterogasi kami kata-kata yel-yel apa yang sudah kami berikan kepada “pasangan penjahat”.
Aku bersyukur aku saat itu hanyalah anak SD yang polos. Benar-benar memalukan memang tindakan anak kecil yang diberi pengetahuan berlebih di luar kapasitasnya sebagai anak kecil.
Sejak itu, memang semakin sedikit yang dekat dengan Yudi. Mungkin karena merasa malu atau bagaimana aku tidak tahu. Tapi aku termasuk yang terus dekat dengan Yudi. Membahas komik, gambar dan berbagai hal. Syukurlah ibunya juga tidak melihat aku sebagai pelaku “kejahatan” yang terjadi di rumahnya ( Aku hanya penggembira saja saat itu, begitu juga semua cowok sekelasku yang lain).
Yudi pindah ketika kami semua lulus SD ke Jakarta. Hanya temanku yang bernama Doddy Dian yang keep in touch dengannya sampai SMA. Setelah itu, aku tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Atau mungkin aku sendiri yang tidak mencari tahu...
Yudi adalah orang yang sangat berbakat dalam seni gambar. Bahkan dulu aku sempat terobsesi untuk jadi seperti dia. Walau aku tidak pernah akan menjadi seperti dia.




No comments:
Post a Comment