Bagi gw Alexandria bukan hanya sekedar film. Gw merasa harus menulis sesuatu yang berkaitan dengan film ini. Bukan masalah pengambilan gambar, alur cerita, casting dsb. Karena gw gak tertarik dan gak berkompeten untuk menyoroti masalah itu.
Gw menemukan beberapa potongan-potongan yang telah lama gw cari, yang seakan gw gak bisa temukan di masa lalu dan gw temukan pada film itu.
Sering dulu gw heran dengan cerita gw yang nggak kayak di film-film. Gw emang besar sebagai seseorang yang introvert. Hidup tanpa tetangga sejak berumur 8 sampai berumur 16 tahun jelas memiliki pengaruh besar bagi gw. Temen gw emang gak sedikit. Gw kenal banyak orang namun yang benar-benar dekat bisa dihitung memakai satu tangan. Itupun gak pernah gw ngebahas masalah perasaan gw sama mereka.
Gw nggak mau nyalahin siapapun dalam masalah perkembangan mental gw ini. Yang pingin gw bahas disini hanyalah cara gw menyukai seseorang yang ternyata merupakan cara yang sama sekali nggak fair bagi seorang wanita. Siapapun itu. Apapun tujuannya, apapun alasannya ternyata emang gak seharusnya berbuat seperti itu dulu.
Gw pernah menyukai seseorang, sampai demikian sukanya gw sampai terus terinspirasi untuk berkarya untuknya. Menciptakan lagu, membuat kompilasi, membuat puisi, lewat dan melihat rumahnya di waktu malam hari. Gw waktu itu entah kenapa hanya bisa memendam perasaan gw. Tiap gw ingin ngomongin perasaan gw, mulut gw selalu terkunci nggak bisa ngomong apa-apa. Kejadian itu terus berulang-ulang. Gw juga heran. Padahal di dalam hati betapa dalam perasaan gw yang gw simpan buat dia. Entah kenapa gw selalu berusaha menunggu saat yang tepat. Saat yang tepat itu serasa tidak pernah datang. Gw juga gak bisa mendiskripsikan saat yang tepat itu kapan dan seperti apa. Gw sekarang baru nyadar, bagi kita laki-laki…saat yang tepat bukan untuk ditunggu, tapi diciptakan. Karena saat yang tepat itu bila ditunggu tidak akan pernah datang sebelum kita melakukan sesuatu. Gw baru nyadar ketika semua udah terlambat. Dia bersama orang lain. Begitu saja.
Gw kaget waktu itu. Kenapa bisa ? kenapa dia tidak mau menunggu ?Kenapa dia begitu saja mau bersama dengan orang lain. Padahal gw benar-benar yakin kalau dia juga memiliki perasaan yang sama kayak gw. Tapi memang semua itu salah gw. Membuat dia menunggu. Menunggu itu sangat menyakitkan. Termasuk hal yang paling menyakitkan. Menunggu kepastian…gw berhutang maaf sama mereka, wanita yang pernah singgah di hati gw. Gw minta maaf apabila mereka pernah menaruh harapan pada gw, pasti setiap saat gw telah menyakiti hati mereka dengan terus membuat mereka menunggu. Gw harap mereka semua telah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Sebagai laki-laki memang seharusnya gw nggak egois. Mungkin memang gw gak sesayang itu sama mereka. Gw ngomong perasaan gw aja susah. Gimana mau melindungi kalau ngomong perasaan aja nggak bisa. Keseriusan gw emang pantas dipertanyakan. Mungkin semua yang gw lakukan itu hanyalah sebuah obsesi gw aja tentang cinta. Gw mengaku suka sama seseorang, tapi gw gak pernah memerhatikan bagaimana perasaan mereka. Mungkin memang dulu gw obsesif. Gw egois.
Hal itu semakin diperkuat ketika gw masih aja mengejar mereka, walau mereka telah bersama dengan orang lain. Orang yang mungkin notabene lebih sayang kepada mereka. Astaghfirullah, apa yg gw lakukan ? Untung dulu gw bisa cepet sadar. Menyudahi semua obsesi itu, berhenti menyakiti diri gw sendiri dan diri mereka. Ada sebuah lirik lagu yang bilang kalo gw benar-benar sayang sama mereka, gw harus nglepasin mereka kalo mereka dah gak mau bareng sama gw lagi. Gw akhirnya sadar kalau gw masih muda dan jalan gw masih panjang. Bila gw saat itu gak bisa ndapetin mereka. Suatu saat gw pasti akan menemukan seseorang yang lebih baik dari mereka dimana gw lebih tulus menyayanginya. Bukan hanya obsesi belaka. Dimana gw gak akan memendam dan menikmati perasaan gw sendiri. Dimana gw gak obsesif lagi. Dimana gw akan merasakan sebuah hubungan yang nyata, bukan hanya di angan-angan belaka.
Gw terlalu dihantui rasa takut gw akan penolakan. Trus emangnya kenapa kalo ditolak ? Kenapa emangnya kalau kita salah menilai perasaan orang? Gpp, semua itu sebenarnya gak masalah. Asal kita melakukan semua dengan baik dan santun. Maka orang pasti melihat kita sangat jantan dalam kegagalan. Kita laki-laki, seharusnya kita tidak takut terluka bila kita mengusahakan kebaikan.
Dulu bahkan gw pernah dinasehati sama cewek yang gw sukai. Waktu itu selepas UMPTN tahun 2000. Dia ingin gw gak datang lagi ke rumahnya karena terus terang dia dah bersama orang lain dan dia sempet ngasih pelajaran terakhir buat gw. Dia bilang,
“Sin, suatu saat kalo kamu suka sama seseorang kamu langsung ngomong aja. Jangan pernah membuat dia menunggu.”
Kata-kata yang simple namun membekas banget di hati gw. Sebenarnya gw sendiri dah sadar sebelumnya kalo dia dah gak ada perasaan apa-apa sama gw. Gw bisa ngerasain, tapi entah apa yang tersisa yang membuat gw tetep duduk di ruang tamu itu. Walau cara dia memandang gw dah gak sama lagi, cara dia berbicara dg gw yang dah gak sama lagi dan gw bisa pastikan kalo semua sudah berakhir antara gw dan dia. Tapi emang mungkin gw adalah orang yang introvert, egois dan keras kepala. Istilahnya waktu itu emang gw menunggu untuk disudahi, dihabisi. Gw menunggu sesuatu yang membuat gw akan melupakan perasaan gw buat dia selamanya. Dan dia akhirnya mengucapkannya juga. Dia ngelarang gw buat menemui dia tuk seterusnya. Terus terang gw sakit, tapi gw malah plong. Semua sisa-sisa obsesi gw dah hangus terbakar saat itu juga. Apalagi waktu gw akhirnya tahu kalau waktu itu dia telah hamil. Gw makin salut sama wanita itu. Dia sebenarnya nggak ingin nyakitin hati gw lebih lama. Gw semakin yakin kalau gw gak pernah salah pilih. Semua wanita yang pernah gw sukai adalah wanita yang baik terlepas dari semua yang terjadi pada diri gw dan diri mereka, hanya saja mungkin kesalahan ada pada diri gw yang kurang dewasa.
Asalkan kita sabar dan selalu menghargai waktu, kita pasti akan bisa melakukannya dengan baik. Kadang-kadang kita tidak menghargai waktu. Padahal di dunia ini yang paling mahal adalah waktu.. Karena waktu tidak akan bisa dibeli lagi. Janganlah kita merengek-rengek untuk datangnya sebuah kesempatan kala semuanya sudah terlambat. Jadilah orang yang berani yang langsung memanfaatkan kesempatan kala kesempatan itu datang.
Ada perbedaan yang besar antara orang yang berani dan orang yang nekat. Janganlah kita menyalahkan siapapun atas segala kekurangan dan kesalahan yang telah kita perbuat. Lebih baik kita memikirkan bagaimana mengubah segala sesuatunya lebih baik di masa mendatang. Maka semua akan terbayar lunas.
Terima Kasih untuk semua yang telah memberi gw pelajaran berharga
Thanks Alexandria
Gw menemukan beberapa potongan-potongan yang telah lama gw cari, yang seakan gw gak bisa temukan di masa lalu dan gw temukan pada film itu.
Sering dulu gw heran dengan cerita gw yang nggak kayak di film-film. Gw emang besar sebagai seseorang yang introvert. Hidup tanpa tetangga sejak berumur 8 sampai berumur 16 tahun jelas memiliki pengaruh besar bagi gw. Temen gw emang gak sedikit. Gw kenal banyak orang namun yang benar-benar dekat bisa dihitung memakai satu tangan. Itupun gak pernah gw ngebahas masalah perasaan gw sama mereka.
Gw nggak mau nyalahin siapapun dalam masalah perkembangan mental gw ini. Yang pingin gw bahas disini hanyalah cara gw menyukai seseorang yang ternyata merupakan cara yang sama sekali nggak fair bagi seorang wanita. Siapapun itu. Apapun tujuannya, apapun alasannya ternyata emang gak seharusnya berbuat seperti itu dulu.
Gw pernah menyukai seseorang, sampai demikian sukanya gw sampai terus terinspirasi untuk berkarya untuknya. Menciptakan lagu, membuat kompilasi, membuat puisi, lewat dan melihat rumahnya di waktu malam hari. Gw waktu itu entah kenapa hanya bisa memendam perasaan gw. Tiap gw ingin ngomongin perasaan gw, mulut gw selalu terkunci nggak bisa ngomong apa-apa. Kejadian itu terus berulang-ulang. Gw juga heran. Padahal di dalam hati betapa dalam perasaan gw yang gw simpan buat dia. Entah kenapa gw selalu berusaha menunggu saat yang tepat. Saat yang tepat itu serasa tidak pernah datang. Gw juga gak bisa mendiskripsikan saat yang tepat itu kapan dan seperti apa. Gw sekarang baru nyadar, bagi kita laki-laki…saat yang tepat bukan untuk ditunggu, tapi diciptakan. Karena saat yang tepat itu bila ditunggu tidak akan pernah datang sebelum kita melakukan sesuatu. Gw baru nyadar ketika semua udah terlambat. Dia bersama orang lain. Begitu saja.
Gw kaget waktu itu. Kenapa bisa ? kenapa dia tidak mau menunggu ?Kenapa dia begitu saja mau bersama dengan orang lain. Padahal gw benar-benar yakin kalau dia juga memiliki perasaan yang sama kayak gw. Tapi memang semua itu salah gw. Membuat dia menunggu. Menunggu itu sangat menyakitkan. Termasuk hal yang paling menyakitkan. Menunggu kepastian…gw berhutang maaf sama mereka, wanita yang pernah singgah di hati gw. Gw minta maaf apabila mereka pernah menaruh harapan pada gw, pasti setiap saat gw telah menyakiti hati mereka dengan terus membuat mereka menunggu. Gw harap mereka semua telah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Sebagai laki-laki memang seharusnya gw nggak egois. Mungkin memang gw gak sesayang itu sama mereka. Gw ngomong perasaan gw aja susah. Gimana mau melindungi kalau ngomong perasaan aja nggak bisa. Keseriusan gw emang pantas dipertanyakan. Mungkin semua yang gw lakukan itu hanyalah sebuah obsesi gw aja tentang cinta. Gw mengaku suka sama seseorang, tapi gw gak pernah memerhatikan bagaimana perasaan mereka. Mungkin memang dulu gw obsesif. Gw egois.
Hal itu semakin diperkuat ketika gw masih aja mengejar mereka, walau mereka telah bersama dengan orang lain. Orang yang mungkin notabene lebih sayang kepada mereka. Astaghfirullah, apa yg gw lakukan ? Untung dulu gw bisa cepet sadar. Menyudahi semua obsesi itu, berhenti menyakiti diri gw sendiri dan diri mereka. Ada sebuah lirik lagu yang bilang kalo gw benar-benar sayang sama mereka, gw harus nglepasin mereka kalo mereka dah gak mau bareng sama gw lagi. Gw akhirnya sadar kalau gw masih muda dan jalan gw masih panjang. Bila gw saat itu gak bisa ndapetin mereka. Suatu saat gw pasti akan menemukan seseorang yang lebih baik dari mereka dimana gw lebih tulus menyayanginya. Bukan hanya obsesi belaka. Dimana gw gak akan memendam dan menikmati perasaan gw sendiri. Dimana gw gak obsesif lagi. Dimana gw akan merasakan sebuah hubungan yang nyata, bukan hanya di angan-angan belaka.
Gw terlalu dihantui rasa takut gw akan penolakan. Trus emangnya kenapa kalo ditolak ? Kenapa emangnya kalau kita salah menilai perasaan orang? Gpp, semua itu sebenarnya gak masalah. Asal kita melakukan semua dengan baik dan santun. Maka orang pasti melihat kita sangat jantan dalam kegagalan. Kita laki-laki, seharusnya kita tidak takut terluka bila kita mengusahakan kebaikan.
Dulu bahkan gw pernah dinasehati sama cewek yang gw sukai. Waktu itu selepas UMPTN tahun 2000. Dia ingin gw gak datang lagi ke rumahnya karena terus terang dia dah bersama orang lain dan dia sempet ngasih pelajaran terakhir buat gw. Dia bilang,
“Sin, suatu saat kalo kamu suka sama seseorang kamu langsung ngomong aja. Jangan pernah membuat dia menunggu.”
Kata-kata yang simple namun membekas banget di hati gw. Sebenarnya gw sendiri dah sadar sebelumnya kalo dia dah gak ada perasaan apa-apa sama gw. Gw bisa ngerasain, tapi entah apa yang tersisa yang membuat gw tetep duduk di ruang tamu itu. Walau cara dia memandang gw dah gak sama lagi, cara dia berbicara dg gw yang dah gak sama lagi dan gw bisa pastikan kalo semua sudah berakhir antara gw dan dia. Tapi emang mungkin gw adalah orang yang introvert, egois dan keras kepala. Istilahnya waktu itu emang gw menunggu untuk disudahi, dihabisi. Gw menunggu sesuatu yang membuat gw akan melupakan perasaan gw buat dia selamanya. Dan dia akhirnya mengucapkannya juga. Dia ngelarang gw buat menemui dia tuk seterusnya. Terus terang gw sakit, tapi gw malah plong. Semua sisa-sisa obsesi gw dah hangus terbakar saat itu juga. Apalagi waktu gw akhirnya tahu kalau waktu itu dia telah hamil. Gw makin salut sama wanita itu. Dia sebenarnya nggak ingin nyakitin hati gw lebih lama. Gw semakin yakin kalau gw gak pernah salah pilih. Semua wanita yang pernah gw sukai adalah wanita yang baik terlepas dari semua yang terjadi pada diri gw dan diri mereka, hanya saja mungkin kesalahan ada pada diri gw yang kurang dewasa.
Asalkan kita sabar dan selalu menghargai waktu, kita pasti akan bisa melakukannya dengan baik. Kadang-kadang kita tidak menghargai waktu. Padahal di dunia ini yang paling mahal adalah waktu.. Karena waktu tidak akan bisa dibeli lagi. Janganlah kita merengek-rengek untuk datangnya sebuah kesempatan kala semuanya sudah terlambat. Jadilah orang yang berani yang langsung memanfaatkan kesempatan kala kesempatan itu datang.
Ada perbedaan yang besar antara orang yang berani dan orang yang nekat. Janganlah kita menyalahkan siapapun atas segala kekurangan dan kesalahan yang telah kita perbuat. Lebih baik kita memikirkan bagaimana mengubah segala sesuatunya lebih baik di masa mendatang. Maka semua akan terbayar lunas.
Terima Kasih untuk semua yang telah memberi gw pelajaran berharga
Thanks Alexandria




No comments:
Post a Comment